Lazimnya, lukisan menjadi pelengkap dekorasi interior. Bagaimana jika lukisan menjadi dasar konsep penataan interior?

Housing-Estate.com, Jakarta - Dua belas desainer interior ternama Indonesia yang tergabung dalam kelompok ID 12, beberapa waktu lalu mempresentasikan karya mereka yang bertema ART dalam pameran CASA by Bravacasa di Jakarta. Ke-12 desainer itu adalah Roland Adam, Fifi Fimandjaja, Joke Roos, Eko Priharseno, Ary juwono, Agam Riady, Anita Boentarman, Prasetio Budhi, Reza Wahyudi, Sammy Hendramianto, Yuni Jie, dan Shirley Gouw. Kreasi berupa diorama sudut-sudut rumah itu diciptakan dengan mengambil inspirasi dari lukisan. Keselarasan gaya, warna, dan detail yang mengikat lukisan dan konsep interiornya cukup mampu membangun atmosfer ruang yang istimewa. Tak percaya? Berikut kami pilihkan lima inspirasi desain yang mungkin dapat mewakili selera Anda.

Classic Modern Desainer interior: Agam Riadi

Tema lukisan klasik Asia yang menghadirkan figur wanita dalam balutan pakaian dan ornamen kepala yang khas, menginspirasi Agam Riadi dalam menata ruang keluarga ini. Tatanan lukisan diberi latar dinding berwarna terakota. Kesan oriental dihadirkan melalui susunan daun pintu kayu berwarna hijau celadon yang diukir dengan teknik laser. Koleksi kabinet klasik berlanggam chinoiserie juga melengkapi selain sofa putih berdesain modern. Lampu meja dengan kap berukir dari bahan logam juga menjadi elemen menarik di sisi sofa.

Pop Art Desainer interior : Reza Wahyudi

Lukisan_inspirasi

Pop adalah hal yang popular, sehari-hari, disukai kebanyakan orang, tetapi tidak selalu harus terkenal. Juga bisa diartikan “to pop”, yaitu menyemburatkan keceriaan. Reza terinspirasi oleh Roy Lichtenstein, seorang seniman yang di awal tahun 60-an mengangkat ilustrasi seharihari pada iklan-iklan media cetak dan komik menjadi sebuah karya seni. Ciri khasnya berupa titik-titik atau bola-bola berpola seragam yang menggambarkan pembesaran titik-titik abu-abu yang membentuk gambar pada kertas koran murah. Reza membawa kembali karya Lichtenstein yang menjadikan seni komersil sebagai subyek ke dalam dunia nyata melalui desain ruang tamu ini. Ia berharap karya lukis dapat dinikmati bukan hanya dalam poster atau kanvas, tetapi juga bisa hidup di dalamnya. Seperti terlihat dalam perwujudan furnitur dan elemen interior bergaya komikal dengan warna-warni ceria.

Eat, Play, and Dream Desainer interior: Fifi Fimandjaya

Lukisan_inspirasi 3

Desain studio berukuran 25 m2 ini merepresentasikan karya lukis Fernando Botero asal Kolombia. Botero adalah pelukis dan pematung yang terkenal dengan gaya Baroque. Karyanya banyak menggambarkan figur-figur berwajah bulat dan bertubuh gemuk. Kualitas lukisannya menyampaikan pesan menyenangkan, lembut, dan penuh kasih sayang. Seperti terlihat pada lukisan berjudul Mona Lisa yang dipajang sebagai latar belakang tempat tidur. Fifi membagi ruang-ruang untuk dapur mini dan area duduk di sisi samping ranjang, serta kamar mandi dan walk in closet di bagian belakang. Seluruhnya mengintegrasikan fungsi-fungsi ruang untuk mencukupi kebutuhan tempat tidur (dream), makan (eat), dan main (play).

Black and White Manifesto Desainer interior: Yuni Jie

Lukisan_inspirasi 4

Karya lukis seniman muda Indonesia Ugo Oentoro menjadi inspirasi Yuni Jie dalam penataan lounge ini. Spirit lukisan yang terlihat monokromatis dan space-aged direfleksikan pada pemilihan warna dan detail interior ruang. Permainan kombinasi warna hitam dan putih tercermin pada lantai yang dibuat seperti papan catur. Perpaduan antara bahan marmer statuario dan lantai kulit bermotif croco membawa nuansa glamor yang kaya. Bagian dinding juga disapu permainan garis vertikal hitam dan putih. Furnitur bergaya ringan namun fungsional memberi keseimbangan pada keseluruhan estetika ruangan yang simpel namun elegan.

Cross Culture Desainer interior: Eko Priharseno

Lukisan_inspirasi 5

Perpaduan eklektik antara desain modern kontemporer dan sentuhan elemen antik terlihat pada ruang duduk ini. Perabot sofa dan meja berkesan langsing dan ringan bersanding dengan furnitur klasik yang tebal dan berdetail. Eko mengolaborasikan karyanya sendiri berjudul Cross Culture yang diciptakannya pada 2005 pada salah satu sisi dinding. Karya lukis dekoratif hitamputih itu disematkan juga pada pelapis kursi bergaya klasik. Dekorasi pendukung lainnya adalah kaca cermin berombak yang merefleksikan potongan-potongan suasana ruang. Halimatussadiyah

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer)
atau
Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie.