Housing-Estate.com, Jakarta - Jangan remehkan bisnis e-commerce atau perusahaan aplikasi belanja online. Medio Agustus lalu perusahaan jual beli online yang disebut-sebut terbesar di Indonesia, PT Tokopedia, mendapat suntikan dana USD1,1 miliar atau sekitar Rp14,7 triliun dari Alibaba Group, perusahaan serupa asal Tiongkok.

 

Menyusul investasi besar-besaran tersebut Tokopedia siap pindah kantor ke Ciputra World Jakarta (CWJ) di Jalan Prof Dr Satrio, Jakarta Pusat. Menjadi tenant terbesar dengan mengambil ruang seluas 13.600 m2, Tokopedia pun mendapat naming right atas gedung itu menjadi Tokopedia Tower.

“Ini baru pertama kali terjadi di sini. Sebelumnya yang bisa (melakukannya) hanya perusahaan jasa keuangan seperti bank atau asuransi,” kata Lucy Rumantir, Senior Technical Advisor Savills Indonesia, sebuah perusahaan konsultan properti di Jakarta. Di CWJ salah satu gedungnya diberi nama DBS Tower sesuai nama anchor tenant (penyewa utaman)-nya.

Selain Tokopedia, ada beberapa perusahaan e-commerce lain yang juga sudah dan akan pindah kantor ke gedung perkantoran di tengah central business district (CBD) Jakarta itu. Tapi karena bukan anchor tenant, mereka tidak bisa punya hak mengganti nama gedung. Sebutlah antara lain Elevenia (1.500 m2) ke AIA Building, Jl Jend Sudirman, Blibli (1.500 m2) ke Graha CIMB Niaga, Jl Jend Sudirman, Lazada (1.900 m2) di Plaza Argo, Jl Jend Sudirman, dan Facebook (1.200 m2) di Capital Place, Jl HR Rasuna Said.

Beberapa lainnya memilih lokasi di non-CBD seperti Traveloka (8.050 m2) di Wisma 77, Jl S Parman, Slipi (Jakarta Barat), Zalora (1.200 m2) di Bidakara Tower 1, Jl Jend Gatot Subroto, Pancoran (Jakarta Selatan), Bukalapak (1.000 m2) di Plaza Kemang, Jl Mampang Prapatan (Jakarta Selatan) dan Gojek (7.700 m2) di Pasaraya GrandeMall, Jl Iskandarsyah, Kebayoran Baru (Jakarta Selatan). Perusahaan aplikasi ojek online pertama di Indonesia ini juga dikabarkan baru saja mengambil ruang seluas 6.000 m2 di South Quarter, Jl RA Kartini, Lebak Bulus (Jakarta Selatan).

“Perusahaan berbasis teknologi Indonesia macam e-commerce, financial technology dan software developer saat ini sedang naik kelas. Dari sebelumnya ibaratnya hanya berkantor di garasi rumah atau ruko, sekarang bisa di gedung perkantoran, dan ini baru terjadi dalam dua tahun terakhir,” jelas Lucy.

Meskipun berbasis teknologi informasi, perusahaan-perusahaan tersebut tidak memiliki kriteria khusus untuk pilihan kantor terkait kecanggihan teknologi itu. Sebab, imbuh Lucy, equipment seperti server, bank data, dan lain-lain tidak harus disediakan atau disiapkan di lokasi.

Permintaan ruang kantor oleh perusahaan e-commerce saat ini memang masih kecil. Tapi dengan asumsi pertumbuhan generik seperti saat ini, tahun 2020 jumlah perusahaan itu akan berbiak 6,5 kali lipat. “Jumlahnya bisa mencapai 13.000 perusahaan dan kebutuhan ruangnya bisa mencapai satu juta meter persegi,” ujar Anton Sitorus, Kepala Departemen Riset dan Konsultasi Savills Indonesia. Sebab itu, perusahaan ecommerce dan sejenisnya menjadi potensi pasar baru untuk gedung perkantoran.

Kriteria kebutuhan perusahaan-perusahaan itu kebanyakan hampir sama dengan usaha lain seperti jaringan internet pita lebar dan lokasi. Untuk faktor lokasi, menurut Anton, bukan sekadar mudah dicapai tapi juga kedekatan dengan tempat makan dan belanja. Tapi yang lebih penting juga adalah fleksibilitas, mengingat pola dan sistem kerja yang bisa dibilang berbeda dengan sistem kerja bisnis konvensional.

“Seperti Google yang menyediakan play room buat karyawannya di dalam gedung kantornya. Area pantry bukan sekadar tempat menyiapkan makan dan bersantap, juga bisa jadi ruang kerja. Perusahaan-perusahaan itu biasanya juga bukan (butuh ruang) dengan cubicle system, melainkan coworking seperti dengan menyediakan meja besar yang bisa dipakai semua karyawan,” paparnya. Soal tarif sewa, menurut Lucy, tergantung kesanggupan masing-masing perusahaan. Sebab itu, baik perkantoran yang ada di CBD maupun non-CBD masing-masing punya peluang pasar.