Housing-Estate.com, Jakarta - Perusahaan cat dan pelapis global AkzoNobel memperkenalkan pendekatan baru dan kolaboratif untuk menangani urbanisasi yang pesat dan tidak terencana yang disebut Human Cities Coalition (HCC). Jakarta dipilih sebagai salah satu kota untuk pelaksanaan inisiatif HCC dengan pertimbangan Jakarta adalah kota besar yang terletak di delta sungai sehingga memiliki tantangan tambahan.

HCC didukung beberapa anggota ahli dalam pengelolaan air dunia. Tujuan dari inisiatif ini, mengembangkan skema bisnis yang terpadu dan dapat diimplementasikan agar bisa mengatasi permasalahan yang ada di kota.

Misinya, meningkatkan akses terhadap fasilitas pokok masyarakat yang tinggal di lingkungan kumuh yang saat ini difokuskan pada daerah Penjaringan, Jakarta Utara. Lebih dari 30.000 orang menetap di sana dengan kualitas lingkungan, sanitasi dan sistem pembuangan (drainase) yang buruk, kekurangan air bersih dan pengelolaan air limbah yang minim.

Kondisi perumahan didominasi rumah tidak permanen, setidaknya 37 persen masyarakat menempati lahan ilegal dan 53 persen dari mereka menempati rumah sewaan. Akses terhadap infrastruktur dasar juga terbatas. “Salah satu tantangan terbesar dari laju urbanisasi saat ini adalah bagaimana menjaga kota tetap manusiawi dan layak huni. Human Cities Coalition adalah cara untuk membuat perbedaan yang lebih besar lagi, membangun kemitraan yang berkelanjutan serta menciptakan dampak langsung kepada masyarakat,” ujar Jun de Dios, Presiden Direktur PT ICI Paints Indonesia (AkzoNobel Decorative Paints Indonesia) melalui rilis di Jakarta, Kamis (25/10).

Bekerja sama dengan Slum Dwellers International (SDI) dan Utrecht University, HCC telah mengadakan kajian untuk menentukan kebutuhan dari masyarakat di Penjaringan. Tanggal 10-11 Oktober 2017, AkzoNobel bersama Pemprov Jakarta menggelar lokakarya bersama 40 peserta terdiri dari perwakilan pemerintah, masyarakat Penjaringan, sektor swasta dan LSM untuk merancang solusi kemitraan publik-swasta yang inovatif yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat Penjaringan.

Hasil utama dari lokakarya tersebut terdiri dari solusi seputar model gabungan air minum dan sanitasi, metode baru penyediaan perumahan serta peningkatan kualitas air di waduk Pluit. Hasil ini akan dikaji lebih lanjut dan dikembangkan menjadi 1-2 fokus skema dampak sosial dan direncanakan akan diujicobakan awal 2018.

“Kami menyambut baik kemitraan strategis ini. Diharapkan membantu mempercepat peningkatan akses terhadap air bersih, fasilitas sanitasi dan infrastruktur di daerah padat penduduk. Ke depan kami berharap ada inisiatif sejenis dari organisasi lain untuk meningkatkan kondisi lingkungan kota Jakarta,” kata Dr Ir Oswar Muadzin Mungkasa MURP, Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup.